Akar masalah anak tidak berprestasi di sekolah

Mengisi hari libur semester ini Alhamdulillah saya baru sempat menulis kembali, sepertinya banyak sekali yang ingin saya tulis, tapi saya ingin melanjutkan tulisan sebelumnya tentang semua siswa pada dasarnya ingin berprestasi.

Seperti biasa akhir semester selalu di tutup dengan kegiatan penyerahan rapot atau laporan hasil belajar siswa kepada orang tua, Alhamdulillah 28 orang tua hadir hanya menyisakan satu rapot saja yang belum diambil. Banyak sekali catatan yang saya ambil dari hasil dialog dengan orang tua tentang perkembangan putra mereka.

Satu hal yang saya garis bawahi adalah tentang sulitnya anak-anak belajar di rumah.

Lagi-lagi ini berhubungan dengan beberapa tulisan saya sebelumnya, saya mengambil kesimpulan anak-anak banyak yang belum memahami makna dan cara belajar. Motivasi tentu menjadi faktor utama, tetapi pada dasarnya semua anak punya motivasi yang tinggi, hanya saja mereka tidak tau harus bagaimana memulainya.

Jika kita setuju dengan pernyataan tidak ada siswa yang bodoh, tentu kita harus cari akar permasalahan kenapa selalu saja ada hasil yang tidak memuaskan bagi beberapa anak ketika rapot dibagikan ?

Akar permasalahannya menurut analisa saya adalah :

  • Guru yang tidak belajar cara mengajar
  • Orang tua yang belum memahami gaya belajar anak mereka
  • Sekolah yang tidak memiliki program terhadap peningkatan mengajar guru dan peningkatan belajar siswa
  • Siswa yang belum paham cara belajar

Saya buat dalam bentuk mind map seperti di bawah ini :

FAKTOR ANAK TIDAK BERPRESTASI DI SEKOLAH

1) Guru dan sekolah

Faktor Guru dan sekolah bisa dikatakan faktor ekternal dari gagalnya proses belajar siswa, mungkin seharusnya selain siswa yang mendapatkan rapot, sekolah juga seharusnya membuat rapot untuk guru. Hal ini sudah ada beberapa sekolah yang menerapkan. Rapot guru akan membantu guru dalam mengevaluasi kegiatan mengajarnya.

Guru wajib belajar cara mengajar yang tepat bagi siswa-siswanya, konsep mengajar dengan menyamaratakan gaya belajar siswa sudah seharusnya ditinggalkan. Guru harus mampu membawakan pelajaran yang menyentuh gaya masing-masing siswa.

Sekolah sudah seharusnya memiliki program pendidikan dan pelatihan yang berkesinambungan sesuai dengan kebutuhan guru-gurunya. Artinya sekolah memiliki kurikulum khusus untuk pengembangan skill guru, dan memiliki catatan terhadap kelebihan dan kekurangan setiap guru.

Selain itu, satu hal lagi menurut saya penting adalah sekolah perlu mengajarkan keterampilan belajar bagi semua siswa. Tidak lagi hanya menuntut WHAT TO LEARN tanpa mengajarkan HOW TO LEARN. Hal ini belum banyak diterapkan di sekolah.

2) Siswa dan orang tua

Permasalahan selanjutnya datang dari faktor Internal yaitu siswa dan orang tua. Siswa yang tidak memahami cara belajar, ini karena di sekolah tidak diajarkan. Sekolah hanya mementingkan WHAT to Learn.

Orang tua yang tidak paham tentang gaya belajar, tidak paham tentang prinsip belajar. Hasilnya mereka hanya menuntut prestasi dari anak-anak mereka. Jika dirasakan pemahaman anak kurang tentang konsep pembelajaran di sekolah, banyak dari mereka justru menambah jam belajar di tempat les atau bimbingan belajar.

Sementara bimbingan belajar yang mengajarkan cara belajar kepada siswanya masih sangat jarang, banyak bimbel justru menambah beban belajar siswa. Hasilnya anak bukan tambah cerdas yang ada malah stress dan terkekang.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s