//
anda sedang membaca...
Uncategorized

Semua anak pasti ingin berprestasi

Dalam tulisan saya sebelumnya saya sudah menekankan pentingnya menguasai keterampilan belajar, dalam hal ini orang tua/sekolah perlu mengajarkan putra dan putrinya belajar cara belajar. Namun, pada kenyataannya banyak para orang tua kita yang tidak memahami hal ini. Sehingga yang terjadi adalah menyerahkan tanggung jawab belajar anak-anak mereka kepada lembaga sekolah, jika dirasakan kurang mereka pasti akan memasukkan anak-anak mereka ke dalam lembaga bimbingan belajar.

Keluhan hampir setiap orang tua kepada saya adalah sulitnya membuat anak-anak mereka termotivasi untuk belajar. Bahkan mereka sampai rela mengeluarkan biaya tambahan diluar jam sekolah agar anak-anaknya bisa belajar. Namun, pada kenyataannya tidak semua anak sanggup mengikuti padatnya jadwal belajar yang menyita waktu bermain mereka.

Saya memaklumi, hampir semua orang tua memiliki harapan yang besar agar anak-anaknya berbakat dan mempunyai kecerdasan yang tinggi. Bagimanapun juga, menjadi pandai akan menyebabkan hasil akademis yang lebih baik dan masa depan yang lebih cemerlang. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika melihat begitu kecewa dan frustasinya beberapa orang tua ketika anak-anak mereka gagal di sekolah dan diberi julukan “pelajar yang lamban” oleh guru dan/atau psikolog.

Saya pun mencoba mencari akar penyebab dari permasalahan ini, mengapa banyak anak-anak kita yang tidak memiliki motivasi untuk berprestasi. Di setiap kelas saya selalu menemukan anak-anak yang mendapat julukan sebagai “pelajar yang lamban”. Sementara anak-anak cerdas dan berprestasi biasanya tidak berubah alias muka lama (red, ‘dia-dia juga’). Jika seorang siswa cerdas mulai dari kelas 1 maka sampai kelas 6, dia pun akan tetap berprestasi. Begitupun sebaliknya.

Artinya, sekolah sebenarnya tidak berhasil melakukan perannya sebagai lembaga pendidikan yang seharusnya mampu membantu anak-anak yang diberi julukan “lamban” menjadi seorang pelajar cepat.

Dr. Georgi Lozanov, seorang pendidik dari Bulgaria, psikolog dan bapak Proses Belajar Akselerasi menuliskan, “Semua anak anak dilahirkan dengan potensi menjadi genius. Bagaimanapun, dalam proses pertumbuhannya, banyak yang mengalami kemunduran kegeniusannya oleh saran-saran norma sosial yang negatif.”

Setiap guru dan orang tua harus percaya dan meyakini hal ini, bahwa benar-benar tidak ada seorangpun yang menjadi pelajar lamban. Anak-anak kita memiliki kemungkinan yang besar untuk belajar menjadi genius.

Lalu, mengapa faktanya di kelas-kelas kita selalu menemukan anak-anak yang mendapat nilai buruk dalam setiap tes ?

Coba Bapak/ ibu tanyakan kepada anak-anak kita tentang keinginan atau harapan mereka, hal ini saya buktikan kepada anak didik saya di kelas 6 Saad bin ABi Waqash, ketika saya menyuruh mereka untuk menuliskan harapan mereka terhadap hasil belajar, semua dari mereka menuliskan ingin sukses di setiap ujian, ingin mendapat nilai yang tinggi dan bisa membanggakan kedua orang tua mereka.

Jadi, anak-anak kita sebenanya ingin sekali menguasai semua pelajaran, tetapi mereka tidak mengetahui cara meraih harapan mereka.

About mrwahid

I'm a Teacher in SDIT Islamia

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Mr.Wahid

Pengunjung Online

”amung

Statistik

Alexa Certified Traffic Ranking for mrwahid.worpress.com
Banner 250x250 pxl

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 39 other followers

@My Tweett

Sepercik Embun Hidayah

Setiap penulis akan meninggal. Hanya tulisannya yang akan kekal sepanjang masa. Maka tulislah tulisan yang akan membuatmu bahagia di hari kiamat.

Yusron Fauzi

Pembelajar yang Tak Pernah Pintar

Blog Pendidik

@dwitagama: Karakter tumbuh dari pembiasaan

Creative Learner

Learning, Teaching and Story Telling

Catatan wisha

untuk sahabat yang ingin berbagi

Swim to my words... Swim to my world...

Love the life you live... Live the life you love...

SUZIE ICUS PERSONAL BLOG

Education is not preparation for life; education is life itself - John Dewey

mulyana kuningan asri

tak pernah berhenti belajar

Blog Guru Kreatif

Mitra dalam wujudkan sekolah yang efektif dan guru yang profesional

kangdidisuradi

siswa yang berkarakter dimulai dari guru yang berkarakter

arebyne

Never Old to Learn

Nunung Nuraida

merekam asa, rasa dan cerita

Myblog.Ies-is

Ikhlas dengan takdirmu..,karena..,Ikhlas itu seperti dalam surat Al Ikhlas

%d bloggers like this: