Dilema KKM

Merekap nilai adalah salah satu tugas guru dan sudah menjadi rutinitas kita sebagai guru menjelang akhir semester, dari sinilah guru akan memperoleh nilai akhir yang didapat peserta didik selama mengikuti KBM di semester berjalan. Nilai akhir biasanya di dapat dari sebuah rumusan penggabungan dari beberapa evaluasi berupa Ulangan harian, tugas, UTS, dan UAS, ada juga yang menambahnya dengan aspek afektif. Hasil rekapitulasi inilah yang selanjutnya akan menjadi dokumen berupa rapot yang akan dilaporkan kepada orang tua siswa.

Dalam menjalankan tugas inilah rekan guru biasanya dilema dalam mengambil keputusan jika ada beberapa siswa yang ternyata mendapat nilai akhir yang belum mencapai KKM. Karena biasanya dalam satu kelas selalu saja ada siswa yang memang mengalami hambatan dalam belajar, hingga di setiap evaluasi selalu mendapat nilai di bawah KKM. Sebagai guru yang profesional tentu kita tidak boleh mencap mereka sebagai anak yang bodoh. Di dalam KTSP sudah jelas tertulis langkah yang harus ditempuh guru jika ada peserta didiknya yang belum tuntas. Yaitu dengan memberikan Remedial.

KKM terkadang menjadi batu sandungan bagi guru, karena saat ini penentuan KKM tidak sepenuhnya ditentukan oleh guru, tetapi dari awal pihak yayasan sudah mematok harga mati sebuah KKM. Dalam hal ini banyak dilakukan oleh sekolah swasta yang tentu ingin menaikkan prestise atau harga diri sekolah karena tidak ingin disamakan dengan sekolah negeri, atau dengan alasan untuk meningkatkan poin akreditasi sekolah. Sehingga, mau tidak mau guru harus bekerja keras agar bisa mencapai KKM. Repotnya jika guru harus mengajar di kelas gemuk dengan kemampuan yang beragam. Apa yang akan terjadi ?

Pak bagaimana dengan si A yang memang termasuk ABK, hasil ulangan selalu do re mi ? saya sudah remedial 4-5 kali tapi tetap saja hasilnya sama.

Kasus diatas sering kali terjadi, maka ada dua kemungkinan jika hal tersebut terus terulang :

1. Siswa/peserta didik mengalami kebosanan, yang efek jangka panjangnya akan berdampak pada kepercayaan diri dan timbul mindset negatif dalam dirinya bahwa Ia adalah anak bodoh. Sehingga remedial baginya bukanlah menjadi penyemangat untuk menghindarinya tetapi menjadi tujuan akhirnya. Sering kita mendengar siswa yang beranggapan tidak perlu belajar nanti juga remedial ujung-ujungnya dapat nilai KKM.

itsvqwm9.jpg

2. Kemungkinan kedua adalah Gurunya yang bosan. JIka hal ini yang terjadi yang diuntungkan adalah siswa, karena biasanya guru tidak lagi membebaninya dengan tes atau tugas-tugas tetapi dengan "bim salabim" anak langsung mendapatkan nilai standart KKM.

Kasus KKM membuat mata kita terbuka bahwa ternyata Pendidikan kita masih belum jelas arahnya. Orang tua selaku konsumen pendidikan masih melihat angka-angka dalam menilai kemampuan anaknya. Banyak juga guru-guru yang masih saja berpatokan pada sisi kognitif siswa dengan mengabaikan sisik afektif dan psikomotorik.

Jika kita meyakini anak-anak kita adalah juara. Marilah kita mengantarkan mereka menjadi juara dengan memberikan nilai yang sesuai dengan potensi unik yang dimilikinya. Jangan merusak kepercayaan diri mereka hanya dengan ambisi KKM.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s