Jadilah Guru yang Selalu Berpikir Positif

Berprofesi sebagai seorang guru menuntut kita untuk selalu belajar dan terus mengembangkan diri, tanpa proses tersebut bagaimana kita bisa mengembangkan potensi unik dalam diri siswa, kita akan senantiasa tertinggal jauh dari mereka. Pengetahuan dan pembelajaran senantiasa mengalami perkembangan seiring dengan pesatnya perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.

Guru yang senantiasa belajar akan jauh berbeda dari guru yang berhenti belajar, dari cara mengajar, mendidik, dan mengatasi setiap masalah yang timbul selama proses belajar mengajar. Guru pembelajar selalu haus dengan kreatifitas, selalu mencari metode-metode terbaru dalam mengajar, tujuan mereka adalah bagaimana menciptakan pembelajaran yang kreatif aktif dan menyenangkan. Guru yang berhenti belajar akan selalu melakukan hal yang sama dalam setiap kelas, mereka senang berkeluh kesah, dan selalu menyalahkan siswa atas segala kegagalan yang mereka alami.

Dalam menjalani aktifitas sebagai seorang guru, kita tidak pernah lepas dari proses berpikir. Karena mengajar dan mendidik adalah sebuah aktifitas berpikir, mulai dari menulis lesson plan atau RPP,  saat KBM, sampai membuat bahan evaluasi dan proses menilai. Semua aktifitas tersebut kita jalani  dengan memanfaatkan otak kita untuk berpikir.

Rangkaian aktifitas kita dalam berpikir tersebut akan membentuk sebuah pola pikir atau sering kita dengar dengan istilah ‘Mindset’.

Jadi Mindset ini terbentuk dari sekumpulan pikiran yang terjadi berkali-kali di berbagai tempat dan waktu serta diperkuat dengan keyakinan dan proyeksi sehingga menjadi kenyataan yang dapat dipastikan di setiap tempat dan waktu yang sama.

Bahayanya seringkali Mindset yang muncul adalah mindset yang negatif, misalnya :

  1. Dalam membuat RPP, mindset yang muncul adalah rasa malas dan bosan dalam membuat RPP, sehingga RPP dibuat tanpa kreatifitas asal jadi, atau hanya sebatas menggugurkan kewajiban administrasi saja.
  2. Ketika mengajar di kelas non unggulan, selalu muncul mindset siswa-siswanya nakal, pemalas, dan guru selalu kesulitan dalam mengajar.
  3. Ketika proses penilaian, muncul mindset negatif terhadap anak-anak yang selalu  gagal dalam ujian, sehingga muncullah stiker anak bodoh, pemalas, dan embel-embel negatif lainnya.

Jika kita dipenuhi dengan pola pikir dan mindset yang salah seperti diatas, sudah pasti kita selalu dilanda stress, dan terjebak pada satu lingkaran hitam yang kita sebut sebagai jebakan rutinitas. Dampaknya tidak hanya menimpa kita sebagai guru, tetapi akan berdampak juga kepada anak-anak didik kita, potensi dan kecerdasan mereka tidak akan tergali.

Untuk itu kita mesti selalu berpikir positif, pikiran positif akan melahirkan pola pikir yang positif. Dr. Ibrahim el Fiky menuliskan dalam bukunya Terapi berpkir positif tentang sepuluh sifat utama yang menjadi ciri khas kepribadian positif. Sifat-sifat ini akan membantu kita mewujudkan cita-cita, serta memberi kebahagiaan, ketenangan, dan ketentraman jiwa.

  1. Beriman
  2. Nilai luhur
  3. Cara pandang jelas
  4. Keyakinan dan proyeksi positif
  5. Selalu mencari jalan keluar
  6. Belajar dari kesulitan
  7. Tidak melahirkan masalah dan kesulitan
  8. Percaya diri
  9. Hidup dengan cita-cita
  10. Pandai bergaul
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s