//
anda sedang membaca...
Internet Sehat, Parenting, Pendidikan

Memupuk Kebiasaan Menulis Pada Anak

Di sela-sela menunggu untuk menonton acara pertandingan Liga Champion antara Barcelona dengan Leverkusen, saya mencari-cari channel acara tv yang bagus, akhirnya saya berhenti di channel Metro TV yang sedang berlangsung acara Mata Najwa. Saya pun tertarik mengikuti acara ini, karena.topik yang sedang dibahas sangat menarik yaitu tentang kecurangan dalam pembuatan skripsi.

Ooo alaa.. Saya jadi teringat potret buruk negeriku, ada sebuah ungkapan yang mungkin sering kali kita dengar yaitu : “Di Indonesia Apa sih yang ga bisa di beli dengan Uang”. Pantas saja para sarjana kita banyak yang menganggur. Jadi inget lagunya Bang Iwan Fals yang judulnya sarjana muda.

Lagu Bang Iwan Fals–Sarjana Muda

Hal ini menjadi PR untuk kita para guru, mungkin mereka yang memakai joki skripsi karena memang mereka tidak mampu menulis. Kita berpikir positif saja. Kalau saja mereka sudah terbiasa dengan kegiatan menulis, mungkin menulis skripsi bukanlah pekerjaan yang sulit dilakukan.

Menulis adalah salah satu keterampilan berbahasa yang dipelajari di sekolah selain keterampilan mendengar, berbicara dan membaca. Menulis adalah keterampilan yang menonjolkan kekuatan nalar atau logika. Biasanya siswa yang logikanya baik memiliki kemampuan bahasa yang juga baik, Namun, siswa yang memiliki kemampuan  bahasa yang baik tidak semua memiliki kemampuan nalar/ logika yang baik. Karena itulah keterampilan menulis menjadi kendala utama yang dirasakan dalam pembelajaran bahasa. Jika dihadapkan pada tugas atau kewajiban yang terkait dengan proses menulis banyak siswa yang mengalami kesulitan. Jangankan siswa, mungkin kitapun sebagai guru akan merasakan hal yang sama jika diberikan tugas menulis seperti penulisan karya ilmiah. Ayo ngaku … !! Hehe..

Menulislah Setiap Hari dan Buktikan Apa Yang Terjadi

Menulis adalah suatu keterampilan yang dipelajari tidak hanya dengan teori semata, karena jika seperti itu mungkin guru B. Indonesia pasti lebih jago dalam menulis. Karena secara teori mereka pasti menguasai teknik penulisan, Menulis adalah keterampilan yang dapat kita kuasai hanya dengan learning by doing, yaa.. kita selamanya tidak akan mampu menulis jika kita tidak memulai menulis.

Om Jay dalam bukunya Menulislah Setiap Hari dan Buktikan Apa Yang Terjadi banyak memberikan gambaran bahwa keterampilan menulis di hasilkan dari latihan terus menerus, sehingga terbentuklah kebiasaan menulis, dan akhirnya alam bawah sadar menjadikan kegiatan menulis adalah suatu kebutuhan.

1Melatih keterampilan menulis harus disejajarkan dengan keterampilan membaca, karena keduanya saling berkaitan erat. Orang yang pandai menulis tak pelak lagi karena Ia keranjingan membaca. Mary Leonhardt dalam bukunya yang berjudul 99 Cara Menjadikan Anak Anda “Keranjingan” Membaca menyatakan bahwa “Anak-anak yang gemar membaca akan memperoleh kebahasaan tertulis, yang kemudian mengalir ke dalam tulisan mereka. Anak-anak yang menulis cerita dan puisi serta memoar akan membaca dengan ketelitian dan wawasan yang jauh lebih besar. Mereka mulai memperhatikan bagaimana seorang pengarang menyusun alur cerita. Menggambarkan secara perinci karakter seorang tokoh atau menggunakan teknik-teknik pengibaratan.”

Lantas di manakah peran sekolah dalam hal ini pembelajaran B. Indonesia ? Selayaknya anak-anak yang telah lulus SD sudah memiliki keterampilan menulis, setidaknya menuliskan cerita pengalamannya selama di sekolah. Kemudian lulus dari SMP dan SMU Ia mampu membuat cerpen, ataupun artikel, dan pada akhirnya lulus menjadi sarjana Ia mampu menulis karya ilmiah minimal untuk tugas akhirnya. Fenomena yang saya sebutkan diatas yaitu banyaknya mahasiswa yang memakai joki dalam tugas akhirnya adalah mungkin akibat dari gagalnya peran sekolah dalam mengajarkan keterampilan menulis.

tips-menulis-karanganPadahal dalam kurikulum proses dan hasil proses pembelajaran bahasa mensyaratkan agar anak didik mempunyai keterampilan berbahasa. Dan keterampilan bahasa tersebut salah satunya adalah keterampilan menulis. Tetapi pada prakteknya guru  kurang menguasai teknik atau metode pembelajaran menulis. Atau mereka terkadang mendahulukan penanaman konsep dan teori yang menyebabkan anak didik memiliki perasaan takut salah, misalnya dalam pembelajaran pantun, guru menjelaskan bahwa pantun memiliki ciri-ciri seperti ini dan itu, jika tidak seperti itu dianggap salah. Sehingga ketika anak ditugaskan membuat mereka sudah ketakutan duluan untuk membuat pantun karena di alam bawah sadar mereka sudah tertanam perasaan takut salah. Setiap guru bahasa seharusnya lebih mendalami konsep-konsep dasar yang memudahkan anak didik menulis. Hal ini perlu ditekankan karena terkait dengan tuntutan kehidupan yang mengkondisikan setiap orang dengan kemampuan khusus.

Saya jadi teringat laporan dari Wakasek Kesiswaan di sekolah kami yang melaporkan kegemaran siswi kelas VI mencoret-coret meja, isi coretan mereka kebanyakan adalah curhat atau hanya sekedar menulis kegalauan yang sedang mereka alami. Dari sini saya dapat menyimpulkan ternyata kami belum dapat menyalurkan kegiatan tulis menulis mereka, hingga akhirnya mejalah yang menjadi sasaran. Hmm… biasa menulis di status FB mungkin ya ??

Selain di sekolah tentu orang tua juga perlu memotivasi mereka agar memiliki kegemaran menulis, bagaimanakah caranya ? berikut ini beberapa cara memotivasi anak agar mereka keranjingan menulis yang saya kutip dari tulisan Bpk. Setiyanto, S.Pd., Guru SMA Yos Sudarso Terbanggibesar yang dimuat Lampung Post, Sabtu, 16 Januari 2010 :

  1. Tumbuhkan kecintaan dan kebiasaan membaca pada diri anak-anak kita. Ini penting kita lakukan agar mereka menjadi penulis yang baik. Jika mereka selesai menulis berilah dukungan dengan memastikan ada yang dapat kita puji. Pujilah karya anak kita. Karena pujian adalah cara efektif untuk memotivasi anak terus menulis. “Wah bagus sekali caramu menggambarkan keindahan alam saat ini! Pelangi memperkaya dunia dengan warna. Ibu suka sekali.”
  2. Jangan memberikan saran dan kritik kepada anak sebelum mereka sudah menjadi penulis yang terampil dan percaya diri.
  3. Hargai privasi anak. Jangan membaca tulisannya tanpa izin dari mereka. Tunjukkan saja bahwa kita tertarik pada tulisan mereka. Tanyakan lebih dulu apakah mereka ingin kita membacanya dan jangan memaksa. Jangan pula mencuri-curi baca.
  4. Hargai pendapat anak. Jangan menuntut kesempurnaan. Jangan menyensor tulisan anak. Tulisan yang betul-betul tidak dapat diterima biasanya hanya musiman. Sadarilah bahwa anak mempunyai selera menulis yang berbeda-beda, seperti halnya selera membaca.
  5. Doronglah mereka untuk menulis apa yang mereka senangi. Ingat, kita tak perlu mengajarkan tatabahasa kepada anak ketika mereka baru mulai menulis. Sebagian besar pengetahuan ketatabahasaan bersifat berkembang sehingga yang dikuasai oleh anak-anak sedikit demi sedikit daripada dipelajari langsung.
  6. Jika mereka sudah menginjak remaja, sarankan agar mereka bergabung dengan staf koran, buku tahunan atau majalah kesusastraan sekolah. Kegiatan ini menyenangkan karena tidak membatasi jumlah anggota. Semua orang bisa ikut. Anak kita akan bergaul dengan sekelompok teman yang menganggap kegiatan menulis itu mengasyikkan dan keren. Yang terpenting, mereka akan membuat tulisan yang dibaca teman sekolah, bukan guru. Dukunglah terbitan yang dihasilkan kelompok ini. Upayakan mereka yang terlibat dalam kegiatan ini mulai menganggap diri mereka sebagai penulis, dan memperoleh pengalaman berharga dalam hal menulis untuk dibaca umum.
  7. Bantulah mereka memikirkan cara untuk mulai menggunakan tulisan mereka secara profesional. Jika anak tertarik dengan masalah-masalah setempat–seperti kaum tunawisma atau lingkungan hidup–doronglah mereka bergabung dengan LSM atau yayasan. Di sana mungkin ada kesempatan menulis untuk keperluan publisitas, dan setidaknya pengalaman itu akan memberi mereka banyak bahan pemikiran dan tulisan bagi mereka sendiri. Hal yang sama berlaku untuk kelompok politik.
  8. Jangan menuntut anak selalu juara di sekolah. Sebagian siswa memotivasi diri agar dirinya menjadi juara, dan apabila anak kita termasuk yang demikian, bagus. Biarkan dan kagumilah. Namun, apabila kita mempunyai anak remaja yang lebih suka meluangkan sedikit waktu untuk mencium wanginya mawar dan mengerjakan proyek kreatif–itu juga bagus.
  9. Jangan paksa anak-anak kita masuk ke kelas terplih dan mendesak mereka mendapat nilai A semua. Tulisan yang baik membutuhkan waktu dan energi, emosional; siswa yang terlalu ditekan orang tua tidak akan mempunyai energi ini. Rasa percaya diri dan keberanian mereka juga tidak berkembang padahal ini betul-betul diperlukan untuk bisa menulis dengan indah.
  10. Kita harus selalu mendukung anak kita dengan hangat, tetapi begitu mereka menjadi remaja, tekanan langsung akan menjadi semakin tidak efektif. Jadi, hargailah karya mereka, tetapi jangan berdiri di belakang mereka dengan tangan terlipat, mengawasi setiap gerakan mereka. Kita mungkin bisa mendapatkan hasil jangka pendek dengan bersikap demikian, tetapi kerugian jangka panjang pasti terjadi.

Demikian, semoga kita mampu mengajarkan dan memotivasi anak-anak agar keranjingan menulis, karena keterampilan ini akan sangat bermanfaat untuk kehidupannya di masa depan.

About mrwahid

I'm a Teacher in SDIT Islamia

Discussion

3 thoughts on “Memupuk Kebiasaan Menulis Pada Anak

  1. Kebanyakan dari teman dekat saya berkenaan dengan menulis adalah alasan klasik, yaitu “malas” dan “tidak punya waktu”.
    Tulisan yang sangat bagus, Pak.🙂

    Posted by Roni Yusron | March 8, 2012, 5:27 pm
  2. yah,, ada kelas 6-nya thuh.. hehe.. lumayan masuk juga ke tulisan pak wahid..

    Posted by Hafshah | March 25, 2012, 3:44 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Mr.Wahid

Pengunjung Online

”amung

Statistik

Alexa Certified Traffic Ranking for mrwahid.worpress.com
Banner 250x250 pxl

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 39 other followers

@My Tweett

Sepercik Embun Hidayah

Setiap penulis akan meninggal. Hanya tulisannya yang akan kekal sepanjang masa. Maka tulislah tulisan yang akan membuatmu bahagia di hari kiamat.

Yusron Fauzi

Pembelajar yang Tak Pernah Pintar

Blog Pendidik

@dwitagama: Karakter tumbuh dari pembiasaan

Creative Learner

Learning, Teaching and Story Telling

Catatan wisha

untuk sahabat yang ingin berbagi

Swim to my words... Swim to my world...

Love the life you live... Live the life you love...

SUZIE ICUS PERSONAL BLOG

Education is not preparation for life; education is life itself - John Dewey

mulyana kuningan asri

tak pernah berhenti belajar

Blog Guru Kreatif

Mitra dalam wujudkan sekolah yang efektif dan guru yang profesional

kangdidisuradi

siswa yang berkarakter dimulai dari guru yang berkarakter

arebyne

Never Old to Learn

Nunung Nuraida

merekam asa, rasa dan cerita

Myblog.Ies-is

Ikhlas dengan takdirmu..,karena..,Ikhlas itu seperti dalam surat Al Ikhlas

%d bloggers like this: