//
anda sedang membaca...
Catatan Harian, Internet Sehat, Pendidikan

5 Kategori Personal Guru. Masuk dimanakah Kita ?

akhirnyaSebagai bagian dari manajemen sekolah, saya selalu berhubungan dengan rekan guru, saya mengamati dan menilai kinerja mereka. Mulai dari profesionalitas mereka, sampai sejauh mana keberhasilan mereka dalam dalam mengajar dan mendidik. Menilai atau mengukur keberhasilan seorang guru ternyata tidaklah mudah, karena untuk mengukurnya tidak bisa menggunakan parameter umum yang selama ini dipakai untuk menilai kinerja SDM di sebuah perusahaan ataupun pabrik. Guru bukanlah semata-mata karyawan yang hanya diukur kerjanya berdasarkan absensi. Guru bukanlah karyawan pabrik yang bisa dihitung berapa ribu barang yang ia hasilkan dalam hitungan hari. Dan guru bukanlah pedagang yang bisa diukur berdasar laba yang dihasilkan setiap harinya.

Saya semakin memahami profesi guru tidak ada hubungannya dengan benda dan barang. Guru mendidik manusia, yang setara dengan dirinya. Guru melekat dengan nilai-nilai baik buruk, wajar-tidak wajar, sopan-tidak sopan, jujur atau bohong, dan seterusnya. Guru adalah salah satu pilar penjaga nilai, yang menjadi salah satu penentu masa depan sebuah bangsa.

Lalu bagaimana tepatnya kita menilai kinerja seorang guru ? saya lebih senang mengutip pendapat Pak Yusron Aminullah dalam bukunya Mindset Pembelajaran yang membagi sosok guru dalam 5 kategorisasi, kelima kategori ini diambil dari terminologi kategori manusia dalam berhubungan sosial yang sering dipakai budayawan Emha Ainun Najib (Cak Nun). Dengan kelima kategori ini kita akan mudah menilai keberhasilan guru dalam mengajar dan mendidik. Jika Anda sebagai guru, marilah kita secara jujur menilai diri masing-masing layak dimasukkan dalam kategori manakah kita ?

Apa saja kelima kategori tersebut ?

  1. GURU WAJIB: guru yang keberadaanya sangat dibutuhkan oleh peseta didik dan sekolah. Indikatornya :
  2. -Jika guru ini tidak ada ada, murid dan sekolah akan kehilangan

    – Cara mengajar profesional

    – Hidupnya dapat menjadi teladan

    – Sosok yang menjadi panutan

    – Selalu memelihara energi positif

  3. GURU SUNNAH: guru yang keberadaannya dubutuhkan oleh peserta didik dan sekolah, namun tidak satu-satunya. Indikatornya :
  4. – Jika guru ini tidak ada, murid dan sekolah akan kehilangan

    – Cara mengajarnya profesional

    – Cara hidupnya dapat menjadi teladan

    – Tapi tidak sulit mencari gantinya karena ada beberapa guru lain yang seperti dirinya

    – Sosok yang menjadi panutan

    – Selalu memelihara energi positif

  5. GURU MAKRUH: guru yang keberadaannya dianggap tidak penting oleh peserta didik dan sekolah, bahkan bisa disebut menjadi beban, baik karena performance-nya maupun sifat-sifatnya. Indikatornya :
    1. Jika guru ini tidak ada, murid dan sekolah justru senang, karena tidak membuat repot murid dan sekolah.
    2. Cara mengajarnya di bawah standar.
    3. Cara hidupnya tidak dapat menjadi teladan.
    4. Tidak sulit mencari gantinya, karena banyak guru lain yang kualitasnya di atas guru tipe ini.
    5. Sosok yang tidak menjadi panutan
    6. Seringkali menunjukkan energi negatif

Guru tipikal ini selayaknya tidak ada di sekolah, karena bisa diganti guru lain yang kualitasnya lebih baik. Dan jika mampukah kita setiap hari meningkatkan kualitas diri sehingga tidak sampai masuk kategori Guru Makruh ?

4. GURU MUBAH: guru yang keberadaannya biasa-biasa saja. Ada dan tiadanya tidak diperhitungkan oleh guru dan murid. Semuanya standar tidak menonjol tapi juga tidak menjadi beban. Indikatornya L

    1. Guru yang tidak istimewa
    2. Cara mengajarnya sangat pas-pasan
    3. Cara hidupnya juga biasa-biasa, tidak menjadi teladan.
    4. Tidak sulit mencari gantinya, karena banyak guru lain yang kualitasnya di atas guru tipe ini
    5. Hidup dalam energi negatif

5. GURU HARAM: guru yang keberadaannya sangat tidak dibutuhkan oleh murid dan sekolah. IndikatornyaL

    1. Guru semacam ini tidak mengajar dan tidak berada di Sekolah
    2. Cara mengajarnya tidaj profesional
    3. Cara hi;dupnya tidak  bisa menjadi teladan
    4. Sosok yang tidak layak menjadi panutan
    5. Selalu memelihara dan menunjukkan energi negatif

Nah, sekarang kita bisa menilai diri kita masuk kategori mana ? Mampukah kita tiap hari meningkatkan kualitas diri sehingga menjadi guru yang berkategori Wajib atau minimal Guru Sunnah dan menolak masuk menjadi Guru Makruh, Mubah, apalagi Haram.

 

Mari kita mencoba.. **

About mrwahid

I'm a Teacher in SDIT Islamia

Discussion

3 thoughts on “5 Kategori Personal Guru. Masuk dimanakah Kita ?

  1. maaf y mr wahid…..kata bu umu n bu rus materi ini dah p’nah diterima di bangku kuliah, but i dont know……. mengapa tidak dipraktekkan oleh mereka yg p’nah dapat….

    Posted by baitipondokbambu | March 1, 2012, 1:57 am
    • Memang materi ini selalu disampaikan di setiap pelatihan, seminar, ataupun di perkuliahan guru. Tetapi tidak ada salahnya kita berbagi barangkali ada rekan kita yang belum dapat informasi ini, atau hanya sekedar mengingatkan bagi mereka yang sudah tau.

      Posted by mrwahid | March 1, 2012, 2:50 am
  2. Oce pak…t’masuk saya nih yg baru membaca jd bisa menilai masuk kategori guru yang mana

    Posted by baitipondokbambu | March 1, 2012, 3:43 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Mr.Wahid

Pengunjung Online

”amung

Statistik

Alexa Certified Traffic Ranking for mrwahid.worpress.com
Banner 250x250 pxl

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 39 other followers

@My Tweett

Sepercik Embun Hidayah

Setiap penulis akan meninggal. Hanya tulisannya yang akan kekal sepanjang masa. Maka tulislah tulisan yang akan membuatmu bahagia di hari kiamat.

Yusron Fauzi

Pembelajar yang Tak Pernah Pintar

Blog Pendidik

@dwitagama: karakter tumbuh dari pembiasaan

Creative Learner

Learning, Teaching and Story Telling

Catatan wisha

untuk sahabat yang ingin berbagi

Swim to my words... Swim to my world...

Love the life you live... Live the life you love...

SUZIE ICUS PERSONAL BLOG

Education is not preparation for life; education is life itself - John Dewey

mulyana kuningan asri

tak pernah berhenti belajar

Blog Guru Kreatif

Praktisi pelatihan guru dan konsultan manajemen sekolah

kangdidisuradi

siswa yang berkarakter dimulai dari guru yang berkarakter

arebyne

Never Old to Learn

Nunung Nuraida

merekam asa, rasa dan cerita

Myblog.Ies-is

Ikhlas dengan takdirmu..,karena..,Ikhlas itu seperti dalam surat Al Ikhlas

%d bloggers like this: