//
anda sedang membaca...
E-Learning

Hijrah dan Konstruksi Masyarakat Madani

Dalam sejarah peradaban Islam, terdapat sebuah peristiwa besar (the great history) yang merupakan tonggak baru dalam sejarah perjuangan Nabi Muhammad saw mengembangkan misi dakwahnya menyebarkan risalah ilahiyah, yaitu peristiwa Hijrah.

Hijrah lazim dimaknai sebagai peristiwa perpindahan Nabi Muhammad dari Mekah ke Yatsrib (Madinah) untuk meneruskan perjuangan menegakkan dinul Islam, menciptakan sebuah tatanan masyarakat yang beradab (civilized), dinamis, progresif dan toleran di bawah naungan wahyu Ilahi, serta membebaskan masyarakat dari belenggu kezaliman, penindasan, dan kejahiliyahan. Karena itulah, Umar bin Khaththab menetapkan peristiwa hijrah ini sebagai permulaan tahun dalam kalender Islam, yang saat ini telah memasuki tahun ke 1428 Hijriah.

Peristiwa hijrah dapat disebut sebagai babak baru peradaban Islam. Setelah sebelumnya, selama lebih kurang tiga belas tahun menjalankan misi dakwah di Mekah, tanah kelahirannya, tidak membuahkan hasil yang signifikan, maka atas perintah dan ijin Allah Swt, Nabi Muhammad kemudian menyusun strategi baru dalam dakwahnya, yakni dengan melakukan hijrah (migrasi), memindahkan basis kegiatan dakwahnya ke suatu daerah yang dianggap masih netral dari dominasi kelompok tertentu. Daerah tersebut bernama Yatsrib, yang kemudian diubah menjadi Madinah, yang berarti kota, atau dalam arti etimologi mengandung makna tempat peradaban. Di tempat baru yang bernama Madinah itulah, selama sepuluh tahun berdakwah, sejarah mencatat kesuksesan yang luar biasa ditorehkan oleh sosok yang disebut oleh Michael H. Hart, sebagai tokoh paling berpengaruh di antara 100 tokoh di dunia. Dialah Nabi Muhammad saw. Di Madinah pula, Nabi Muhammad berhasil menciptakan sebuah blue print masyarakat madani (berperadaban), sebuah prototype masyarakat ideal.

Masyarakat Madani

Kata madani berarti civil atau civilized (beradab). Madani berarti juga peradaban. Konsep madani bagi orang Arab memang mengacu pada hal-hal yang ideal dalam kehidupan.

Wacana seputar konsep masyarakat madani, pada hakekatnya merupakan reinterpretasi intelektual muslim terhadap sebuah tatanan masyarakat yang pernah dibentuk oleh Nabi Muhammad ketika berada di Madinah. Konsep masyarakat madani yang berkembang dewasa ini merupakan sebuah bentuk dialektika antara ajaran Islam dengan modernitas. Proses dialektika tersebut adalah suatu yang niscaya. Ketika Barat melahirkan konsep civil society pada abad ke-18, yang dipelopori oleh John Locke atau Montesquieu, maka ilmuwan muslim menginterpretasikan civil society dengan istilah masyarakat madani, yaitu sebuah komunitas masyarakat yang dibentuk oleh Nabi Muhammad ketika berada di Madinah.

Jika ditelisik secara historis, masyarakat madani pada masa Nabi Muhammad adalah sebuah komunitas masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan; persaudaraan universal (universal brotherhood), kesetaraan (equality), dan keadilan sosial (social justice), di bawah naungan wahyu Tuhan.

Dalam konsepsi Islam, persaudaraan universal dan kesetaraan adalah nilai-nilai yang harus dijunjung tinggi. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam Q.S. 49: 13, “Hai manusia, sesungguhnya Kami mencipatkan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antarta kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Ayat ini secara tegas membantah semua konsep superioritas rasial, kesukuan, kebangsaan atau keluarga, dengan seruan akan pentingnya kebersamaan yang didasari oleh kesalehan. Kesalehan yang dimaksud adalah perpaduan antara kesalehan ritual dan sosial.

Model masyarakat Madinah di bawah kepemimpinan Nabi Muhammad adalah prototype masyarakat ideal produk Islam. Konstruksi masyarakat madani yang dibangun oleh Nabi Muhammad mencerminkan betapa beliau mampu mempertemukan beragam perbedaan; sosial, budaya, bahkan agama, di tengah heterogenitas masyarakat ketika itu. Beliau mampu menyusun sebuah harmoni yang indah di tengah pluralitas, mengikis segala bentuk egoisme, arogansi dan kesewenang-wenangan. Beliau berhasil memberikan pencerahan, mengubah tatanan kehidupan masyarakat menjadi lebih agamis, santun dan beradab. Di sinilah, ajaran Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi seluruh umat manusia) menemukan relevansinya.

Dengan demikian, hijrah yang dilakukan Nabi Muhammad merupakan sebuah loncatan besar dalam sejarah peradaban Islam, yang pada gilirannya tidak hanya sekedar membebaskan masyarakat muslim dari kejahiliyahan, ketertindasan dan kesewenang-wenangan kafir Mekah, tetapi lebih jauh, mampu menciptakan sebuah konstruksi masyarakat madani, masyarakat berperadaban yang religius, egaliter dan toleran.

Sumber : http://didijunaedihz.wordpress.com

About mrwahid

I'm a Teacher in SDIT Islamia

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Mr.Wahid

Pengunjung Online

”amung

Statistik

Alexa Certified Traffic Ranking for mrwahid.worpress.com
Banner 250x250 pxl

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 39 other followers

@My Tweett

Sepercik Embun Hidayah

Setiap penulis akan meninggal. Hanya tulisannya yang akan kekal sepanjang masa. Maka tulislah tulisan yang akan membuatmu bahagia di hari kiamat.

Yusron Fauzi

Pembelajar yang Tak Pernah Pintar

Blog Pendidik

@dwitagama: karakter tumbuh dari pembiasaan

Creative Learner

Learning, Teaching and Story Telling

Catatan wisha

untuk sahabat yang ingin berbagi

Swim to my words... Swim to my world...

Love the life you live... Live the life you love...

SUZIE ICUS PERSONAL BLOG

Education is not preparation for life; education is life itself - John Dewey

mulyana kuningan asri

tak pernah berhenti belajar

Blog Guru Kreatif

Praktisi pelatihan guru dan konsultan manajemen sekolah

kangdidisuradi

siswa yang berkarakter dimulai dari guru yang berkarakter

arebyne

Never Old to Learn

Nunung Nuraida

merekam asa, rasa dan cerita

Myblog.Ies-is

Ikhlas dengan takdirmu..,karena..,Ikhlas itu seperti dalam surat Al Ikhlas

%d bloggers like this: